10 Oktober 2022
Pesan ini secara khusus ditujukan pada sosok manusia yang secara sporadis menganggu pikirku hingga hari ini.
Kelabu sore itu memilih tangis yang ditumpahkannya ke bumi, ntah karena ikut bersedih atau menghinakan ku di sini. Dengan muak menatap langit-langit bersama sakit, aku mulai mengingatmu lagi sedikit demi sedikit.
Bersama korelasi anantara kita merekat dekat tanpa ikat, menggenggam bianglala yang berpulang padamu. Detak dinding bersatu, langkah siapa bertemu? Bersama dekap rayu, aku mencuri waktumu.
Bulan telah lelap bersama robekan kertas tercoreng angka, hendak menuju ragamu yang menua. Kita yang merapah, aku yang serakah, dan kamu yang tidak peka ternyata sudah didewasakan nestapa. Merangkak naik menuju tak dilampau, kamu makin tua.
Selamat menambah usia dengan mengurangi sisanya. Melangkah gagah, dengan dirimu yang menghias netra. Sedari lama telah buta, aku tak kecewa jika esok jadi kalah.
Kamu telah singgah, maka aku tuan rumahnya. Lantas menyuguhkanmu romansa bukanlah dosaku, benar tuan? Dengan harap singgah yang lama hingga jadi tua, daksamu perlahan bungkuk.
Maka aku penonton setianya, mengizinkan surai terurai putih dengan dirimu jadi pangerannya. Bukankah terbayang menyenangkan? Sudah dipastikan.
Setahun yang bertambah disini, ku harap bertambah terus di sini. Dengan namamu di sisi.
Komentar
Posting Komentar