27

Perempuan itu menatap rembulan setelah menyibakkan tirai yang menghalangi netranya. Ditatapnya lekat langit pukul 1 pagi kala itu, bersama pantulan lentera langit dalam netra yang menahan gumpalan air menggenangi iris gelapnya.

Menemukan nama yang pulang dalam memori yang tidak terselami. Lantas bagaimana jika nama itu kembali dan bukan cinta lagi yang engkau dapati? Tutur lubuk yang berusaha waras dalam sesaknya gulana. Tanpa menunggu lama jarum jam menggeser waktu, buliran telah menjadi sungai dalam isak yang ditahan. Bodoh, bertahun-tahun sudah berlalu dan pikir yang tak tahu malu sudah mencari pencuri. Hatinya hilang dan bersama itu disembunyikan di balik pria ilalang. 

Bersama kehilangan itu, angan yang dibanjiri rindu redam makin mendendam. Tidak ditemukan, maka wajar peringatan kematian berkali-kali terselenggarakan. Bahwa yang pergi jauh tidak akan berduka pada mereka yang tertinggal. Tapi tapak kaki menapak jelas pada bumi. Berlari, mencari, mengelilingi puing-puing perasaan. Berulang mencari sosok pada diri yang lain, belajar memulai namun menaruh harap pada takdir.

Komentar

Postingan Populer