Februari

Di sendu hari, langit ku abu-abu. Sebanyak permainan kata di roman picisan tua. Sejauh ragamu kabur, sebanyak langkah mengejarmu


Kalimat utama paragraf sebuah kisah, teman berlawan jenis mulai memendam rasa. Laksana bulan terang kau sinari langit gelap ku. Dengan tawa mu nyaring , netraku menatap senyum di wajah seri mu


Akulah Esa, gadis biasa di pertengahan Februari manis, hampir romantis


Dering ponsel mengganggu , ku tatap lekat tanpa perlu ku eja. Jelas sudah itu darinya. 

Tanpa berlama-lama dengan sigap jariku menekan tombol hijau


" Halo? Kenapa Vin?" 


"Ini Sa, besok ada waktu gak?" Suaranya lembut, seperti biasa


"Ada kok, kenapa?" 


"Gue mau beli sesuatu besok, bantuin boleh kaga Sa?" 


"Oh, ok ok. Jam berapa?" 


"Kapan lu siap aja dah" 


Setelah berjanji pukul 11 pagi besok, aku tersenyum . Walau tak punya hubungan khusus, aku tetap bermain dengan halu


Lusa adalah valentine manis. Tak salah juga jika perempuan bertindak lebih dulu. Iya kan?


Esok mungkin ku dapat waktu berucap, walau berpuluh kali berencana, apakah kali ini aku mampu memiliki nya?


___________________♡♡♡♡___________________


Fajar menyingsing, cahaya mentari menelusup celah tirai. Disinari nya wajahku, hingga terganggu tidurku. Di kosan tak terlalu lapang ini, aku mendengar detakan jam, aku menatap malas ke arah jam. Gawat ini pukul 10 pagi, langsung saja aku melompat dan melesat ke kamar mandi


Berkemas secepat mungkin, memakai riasan kilat. Langsung saja turun, hendak menunggu nya di depan pagar


Dan benar saja, dia sudah disana. Menunggu sesekali menatap ponselnya


"Udah lama Vin?" Ku tepuk pelan pundak nya


"Eh kaga kok Sa, udah siap?" Aku mengangguk, sambil menerima helm dari nya


Dinyalakan motornya, membelah jalanan kota. Perlu waktu 10 menit, kami sampai di mall tengah kota


"Mau beli apaan?" Aku menatapnya


"Itu ..." Jarinya menunjuk ke salah satu toko dengan yang penuh dengan produk kecantikan, aku bingung


"Buat siapa? Nyokap lu?" Aku berusaha positif 


"Udah, nanti gue ceritain" Dia menarik lenganku masuk ke toko yang menjual banyak produk kecantikan


"Sa, gue mau ngomong serius"


"Iya? Ngomong serius harus sampe ke toko yang isinya make up semua?" 


"Gue mau beliin sesuatu buat Siska" Jelas aku terdiam


"...lu su - suka Siska? " Jelas hatiku mencelos


"Eh? Maksud lu? Lu Kata gue pecewor?"


"Pecewor?" Jelas bahasa ini cukup aneh


"PEREBUT CEWE ORANG" Setiap kata penuh penekanan


"Ya , ya.. enggak... Ya bisa aja.." 


"Lu kan temen nya pinter... Lu lupa? Besok tuh ultah nya Siska seleb" Di sentil nya jidatku lalu tertawa, aku ingat. Hanya aneh dia mau berepot-repot memberi hadiah


"Lah? Baik bener lu" 


"Ya emang baik gue nya, kan dia calon Kakak ipar gue" Ah iya, Kevin mengincar adik Siska. Kenapa aku sebegitu bodoh nya?


"Ah gitu, kenapa gak ngasih buat adeknya aja?"


"Lu kan tau Sa, doi udah punya pacar" 


Ya, inilah Kevin. Baru tadi ia berkata tak akan merebut pasangan orang lain, dan sekarang? Ia rela menjadi laki-laki seperti itu


Memang sudah nasibnya sebanyak waktu kami habiskan, kemana pun kami pergi. Di pikiran nya hanya membuat perempuan itu beralih melihat nya. Seberapa besar usaha ku mencuri hatinya, aku mulai lelah


"Vin, lu mau sampe kapan ngejar gini? Tadi lu kata bukan pecewor"


"Ya memang bukan, gue nunggu doi putus. Jadi bukan perebut" Ah jujur kata-kata itu perih


"Terus, kalau selama lu nunggu dia dan ternyata ada yang nunggu lu gimana?" 


"Ya gue minta maaf, gue kaga bisa. Karena gue kalau nyaman sama satu orang, yaudah itu aja"


"Walaupun orang yang nunggu lu itu..."


"Itu? Itu apaan?" Sambil menunggu jawaban, dia menatap ku 


"Gue..." 


"Hahahaha astaga Sa lu ngelawak lucu banget, gue sampe mules" Aku menahan dengan wajah mungkin sudah Semerah tomat. Sedang dia tertawa terbahak-bahak


"Lucu ya? Haha iya deh" aku menatap nya, tanpa sadar bulir air mataku jatuh


"Eh? Sa?!" Dia terkejut, dengan cepat ku hapus air mata ku


"Hehehe enggak kok, udah ah yuk pilih dulu lu mau ngasih apa?" Dia diam


"Jadi . . . Ternyata beneran ya?" Dia menatap dingin, tersenyum lalu mengangguk. Di hela kan nya nafas 


"Maaf Sa, gue kaga bisa" Cukup kata kata itu, aku sudah paham


"Gapapa Vin, anggap aja gue kaga pernah bilang gitu" Aku tersenyum, berusaha mencairkan suasana


"Iya" Dia mengangguk


Dia mengambil acak salah satu lipstik yang terpajang, lalu membayar nya ke kasir. Berusaha untuk tak kontak mata, aku hanya menunduk dengan raga lemas


"Ayo pulang atau lu mau singgah dulu?" Aku menggeleng, sudah tidak mood


Berjalan ke parkiran, tanpa satu patah kata. Dia dingin, sudah risiko memang. Aku menyesali nya hingga tak sadar sampai di kosan. Aku mengembalikan helm, lalu menatap nya 


"Sekali lagi maaf, kita tetep temenan kan Sa?" Dia berkata, bisa ku tatap netra coklat nya


"Iya, maaf juga kalau gue ngebebanin lu" 


"Sekali lagi maaf Sa, istirahat ye. Gue pulang dulu"


Dengan sekuat hati ku tahan tangis, hingga ia pergi. Lalu menangisi semua nya, se perih itu ternyata. Sebanyak apapun yang dilewati, usaha mendapatkan nya adalah cara patah hati yang aku sengaja


Kami adalah Selatan Utara, jauh tak bersatu. Dia memang bukan miliknya tapi bukan juga milikku




Req : @ellssaaz —> Instagram



Komentar

Postingan Populer